PANDUAN QURBAN
Sabtu, 10-08-2019 Artikel alirusdi Dibaca : 15 Kali | Kembali

PANDUAN IBADAH QURBAN IDUL ADHA

MAKNA KATA
Pengertian Kurban secara etimologi dan terminology syara* tidak ada perbedaan , yaitu nama dari hewan yang khusus disembelih pada saat hari raya kurban ( Id al-Adha ) dan hari hari tasyriq (hari tanggal 11, 12 dan 13 bulan Dzul Hijjah) beserta malamnya, sebagai upayah untuk mendekatkan diri (taqorrub) kepada Allah SWT.

DALIL KURBAN
Dari Al-QURAN
Allah SWT. Berfirman yang artinya, *Maka diriknalah shalat karena tuhanmu dan menyembelihlah (berkurbanlah) (QS: al-Kaustar)
Mayoritas ulama berpendapat bahwa yang di maksud dengan shalat di sini adalah shalat hari Id al-Adha, sedangkan yang dimaksud dengan menyembelih adalah menyembelih hayawan kurban.
Dari Hadist
Dari siti Aisyah RA, Bahwa Rasulullah SAW. Bersabdahyang artinya: Tiada amal anak cucu adam pada hari raya kurban yang lrbih di sukai Allah daripada mengalirkan darah (berkurban). Kelak , kurban tersebut akan datang pada hari kiamat ( sebagai kendaraan bagi orang yang berkurban ). Dan bahwasannya darah kurban tersebut sudah mendapat tempat yang mulia di sisi Allah sebelum Jatuh ke tanah. Maka laksnakanlah kurban ini dengan sepenuh hati. (HR: Turdzi)
Dari Anas RA, ia barkata : Nabi SAW. Mengurbankan dua ekor kambimng yang putih putih dan bertanduk. Keduanya di sembelih dengan kedua tangan beliau yang mulia, setelah di bacakan bismillah dan takbir, dan beliau meletakkan kakinya yang berbarokah di atas kedua kambing tersebut.(HR: Muslim )

KEUTAMAAN KURBAN
Nabi Muhammad SAW. Bersbdah tentang keutamaan kurban, bahwa kurban akan menyelamatkan pemiliknya dari kejelekan duni dan akhirat.
Beliau juga bersabda yang artinya, Barang siapa telah melaksanakan kurban, setelah orang itu keluar dari kubur nanti, ia akan menemukan kurbannnya berdiri di atas kuburannya, rambut kurban itu terdiri dari belahan emas, matanya dari yaqut, kedua tanduknya dari emas pula. Lalu ia terheran heran dan bertanya, siapa kamu ini? Aku belum pernah melihat sesuatu seindah kamu?. Hewan itu menjawab, *Aku adalah kurbanmu yang engkau persembahkan di dunia, sekarang, marilah naik ke atas punggungku*kemudian ia naik dan berangkat hilir- mudik di antara langit dan bumi sampai di naungan arasy, di langit yang ke tujuh.
HUKUM KURBAN
Hukum berkurban adalah Sunnah kifayah bagi tiap tiap muslim
Yang sudah baligh, berakal, memiliki kemampuan untuk berkurban dan hidup dalam satu keluarga. Sedangkan bagi mereka yang hidup seorang diri (tidak memiliki sanak-saudara), hukumnya adalah sunnah ain. Yang di maksud *memiliki kemampuan untuk berkurban* di sini adalah orang yang memiliki harta yang cukup untuk di buat kurban dan cukup untuk memenuhi kebutuhannya pada hari Id al-adha dan hari hari tasyriq.
Menurut imam zarkasyi, seseorang di sunnahkan berkurban apbila ia memiliki harta melebihi ke butuhannya dan kebutuhan orang yang wajib ia nafkahi, seperti istri, anak dan lainnya. Sebab kurban termasuk di antara macam macam sedekah yang di sunnahkan, sementara member nafkah pada keluarga adalah wajib.
Meskipun hukum kurban adalah sunnah, namun suatu ketika bisa saja berubah menjadi wajib. Hal ini terjadi bila seseorang ber nadzar dengan korbannya, dimana, perubahan hukum ini akan ber konsekuwensi pada perubahan beberapa aspek yang lain, sebagimana yang akan kami jelaskan nanti. Karenanya,seseorang hendaknya berhati-hati agar kurbannya tidak berstatus kurban wajib.
Suatu contoh, seseorang yang sudah membeli atau memiliki kambing, kemudian berkata “kambing ini untuk kurban” maka secara otomatis kambing itu menjadi kurban nadzar, jika demikian, maka tidak boleh tidak, kambing itu harus dibuat kurban.
Contoh lain, pada permulaan, si A mebeli sapi yang nantinya akan ia jadikan kurban. Lantas, setelah ia ditanya, “untuk apa kurban ini?” ia menjawab “untuk kurban”. Dengan demikian secara otomatis sapi tesebut menjadi kurban wajib (nadzar), sekalipun ia tidak tahu jika perkataannya tersebut dapat merubah status sapinya menjadi kurban wajib. Jika sudah demikian, maka status atas “kurban wajib” tidak akan bisa dicabut kembali, meski kemudian ia berkata “ sapi ini adalah kurban sunnah”.
Untuk bisa terhindar dari hal tersebut, maka hendaklah ia menjawab “ kambing ini akan saya sembelih dan saya makan pada hari raya kurban”, atau, “kambing ini saya sembelih pada hari raya kurban”.
Bila ada orang berkata “ jika saja kambing ini saya miliki, tentunya saya akan jadikan kurban”. Ungkapan seperti ini tidak sampai menjadikan kurban berstatus wajib, sekalipun kambing itu pada akhirnya ia miliki. Sebab, menentukan hewan untuk kurban wajib tidak bisa terajdi pada sesuatu yang masih belum ia miliki.
Namun, bila ia berkata “ kalau saya memiliki kambing, saya wajib berkurban”. Maka, kalau kemudian ternyata ia betul-betul memiliki kambing, kambing itu harus dijadikan kurban.

HIKMAH KURBAN
Ada banyak hikmah yang terselip di balik pensyariatan kurban ini. Di antaranya adalah:
Untuk mengenang nikmat nikmat yang di berikan allah kepada nabi ibrohim A.S. Dengan di gagalkannya perintah penyembelihan putra beliau, ismail A.S. dan di tebus seekor kambing dari surge.
Untuk mebagi-bagikan rizki yang di berikan oleh Allah pada ummat manusia pada saat hari raya ‘id al-adha, yang memang menjadi hari bahagia bagi ummat islam , agar yang miskin juga merasakan kegembiraan seperti yang lain, sebagaimana yang telah di sabdakan nabi Muhammad SAW., “ hari raya kurban adalah hari makan dan minum dan dzikir kepada Allah SWT”. ( HR: Muslim )
Untuk memperbanyak pendapatan rizki bagi orang berkurban, dimana, setiap hamba yang menafkahkan hartanya di jalan kebaikan, hartanya akan semakin berlipat ganda, bukan tambah berkurang, sebagaimana banyak di jelaskan dalam hadits.
Agar menyamai terhadap apa yang dilakukan oleh ummat islam yang sedang melaksanakan ibadah haji pada hari itu (tanggal 10 dzulhijjah) dengan menyembelih hayawan-hayawan kurban dan membagi-bagikan dagingnya pada fakir-miskin, sekaligus sebagai isyarat akan besarnya dambaan terhadap perkumpulan agung yang sedang terjadi di Mina.

PELAKSANAAN KURBAN
Niat
Langkah pertama yang harus dilakukan oleh orang yang hendak berkurban adalah niat berkurban. Niat ini bisa dilakukan pada saat menyembelih hewan kurban atau pada saat hewan itu di serahkan pada wakil (wakil penyembelih). Kurban yang diwakilkan cukup diniati pada saat penyerahan hewan kurban terhadap wakil. Dan pada saat penyembelihan kurban, wakil tidak diharuskan niat, tapi di sunnatkan. Sementara kalau kurban wajib, seperti nadzar, tidak wajib niat berkurban, sebab sekalipun kurban itu tidak diniati, dengan sendirinya sudah menjadi kurban wajib yang sah.
WAKTU PELAKSANAAN
Masuknya waktu kurban terhitung sejak terbitnya terbitnya matahari tanggal 10 Dzulhijjah kira-kira setelah selesainya dua rakaat dan dua khutbah solat ‘id al-adha sampai terbenamnya matahari pada akhir hari tasyriq ( tanggal 13 Dzulhijjah ).
Apabila ternyata waktu kurban sudah habis, maka kurban sunnat sudah tidak bisa dilakukan. Namun bila kurban itu berstatus wajib /nadzar, maka kurban itu wajib dia qodho’ pada tahun berikutnya. Demikianlah pendapat imam syafi’iyah.
Kalau kurban nadzar atau wajib terlambat dari waktu kurban yang telah ditentukan, maka hewan itu harus disedekahkan hidup-hidup atau mensedekahkan harga dari hewan kurban tersebut.
Apabila hewan yang dipersiapkan untuk kurban ternyata cacat atau mati sebelum tiba waktu penyembelihannya, maka pemilik tidak wajib mengganti hewan tersebut kalau tidak unsure sembrono atau gegabah. Kalau kecacatan atau kematian hewan itu disebabkan ada unsure kesembronoan, semisal waktu penyembelihan telah tiba namun tidak disembelih, maka ia harus mengganti hewan kurban itu dengan harga yang sama atau yang lebih mahal dari harga dihari kematian hewan tersebut.

KRITERIA HEWAN KURBAN
Hewan yang bisa ( sah ) di buat kurban hanya tertentu pada unta, sapi, kerbau, kambing. Baik hewan jantan, betina maupun banci. Hanya saja, menurut pendapat yang lebih sohih, kurban yang lebih utama adalah hewan jantan, sebab dagingnya lebih baik dari pada hewan betina. Selain hewan hewan tersebut tidaksah di jadikan kurban termasuk kijang, kuda dan dll. Khusus untuk sapi dan kerbau, di syaratkan tidak berupa sapi atau kerbau liar, namun harus berupa sapi atau kerbau peliharaan. Namun, menurut Al-Hasan bin Shalih, sapi liar bisa atau sah di jadikan kurban untuk tujuh orang, sebagaimana sapi peliaharaan. Demikian juga kijang, tapi hanya untuk satu orang. Berikut kami jelaskan lebih rinci kriteria-kriteia masing-masing hewan yang boleh di jadikan kurban tersebut.
Umur Hewan Kurban
1. Kambing
Kambing kibas harus sudah sempurna umur satu tahun dan memasuki umur dua tahun, atau masih belum genap umur satu tahun, namun gigi depannya sudah ada yang tanggal. Kambing seperti ini, meskipun belum genap berumur satu tahun sudah di anggap mencapai usia dewasa. Seperti halnya manusia: Untuk menentukan usia dewasa ( baligh )nya, bisa dengan umur atau mimpi yang mengeluarkan mani. Sementara kambing kacang di syaratkan sudah sempurna berumur dua tahun dan menginjak umur tiga tahun.
b. 1. Sapid an Kerbau
Sapi dan kerbau di syratkan harus sudah berumur dua tahun dan menginjak umur tiga tahun.
Kondisi fisik hewan
Kondisi fisik hewan kurban harus sehat dan tidak terkena penyakit atau cacat, seperti pincang, buta, terlalu kurus, telinga atau ekornya putus serta selamat berbagai macam ke cacatan fisik, lebih lebih ke cacatan yang berpengaruh terhadap daging hewan.
PENDISTRIBUSIAN DAGING KURBAN
Apabila kurbannya berstatus sunat, maka dagingnya harus di berikan pada kaum fakir miskin, termasuk kerabat kerabatnya yang miskin, dalam keadaan mentah ( belum di masak ). Dan orang yang berkurban juga boleh memakan daging kurbannya, tapi alangkah baiknya apabila ia mensedekahkan semua daging kurban kecuali sedikit untuk ia makan. Namun, apabila kurban itu berstatus wajib, maka dagingnya harus di didtribusikan semua tanpa terkecuali, dan orang yang berkurban berikut keluarga yang wajib ia nafkahi haram memakan daging kurban tersebut. Sebab hewan itu sudah bukan miliknya. Seandainya hewan itu melahirkan, maka anaknya harus di sembelih bersama induknya. Meskipun pemilknya boleh mengendarai, mengambil susu atau bulunya sebelum prosesi penyembelihan di langsungkan.
Semua daging hewan kurban, termasuk kulitnya, baik kurban nadzar maupun sunnat, tidak boleh di jual dan tidak boleh di jadikan ongkos tukang jagal, tapi harus di sedekahkan pada fakir miskin sebagai mana penjelasan di atas. Sebab ada hadist nabi muhammmad SAW yang artinya: “barang siapa yang menjual kulit hewan kurban, maka tidak ada hewan kurban baginya”. Menurut madzhab hanafiyah, kulit hewan kurban boleh di jual, tapi harga ( UANG )nya harus di sedahkan pada fakir miskin.
Adapun cara yang baik dalam mendistribusikan daging kurban adalah di berikan pada sanak keluarganya terlebih dahulu, kemudian kepada kaum fakir miskin. Daging kurban tidak harus di berikan kepada beberapa golongan sebagaimana ketentuan dalam pendistribusian harta zakat, namun boleh diberikan pada satu orang fakir atau miskin saja. Dan memakan sisa dari daging kurban yang telah disedekahkan hukumnya boleh, termasuk mensedakhkannya dalam keadaan matang ( sudah di masak ).
Pendistribusian daging kurban tersebut harus di lakukan di desa atau daerah dimana kurban itu di sembelih dan tidak boleh di pindah ke desa lain. Sebab daging itu harus di berikan pada fakir miskin yang ada di sekitarnya. Hal ini sama persis dengan cara pendistribusian harta zakat. Kalau penyembelihan kurban itu di serahkan pada wakil, maka kurban itu harus di bagi bagikan pada fakir miskin yang berada di tempat wakil tersebut. Inilah pendapat yang kuat ( mu’tamad ). Sementara qoul yang memperbolehkan di anggap pendapat lemah.
SUNAT-SUNAT KURBAN
Penyembelihan di lakukan oleh orang islam.
Penyembelihan di lakukan di lakuka di siang hari.
Sunat bagi orang bagi orang yang hendak berkurban tidak memotong rambut, kuku atau apapun dari anggota badannya pada hari penyembelihan kurban hingga proses penyembelihan selesai . hikmahnya adalah agar ampunan dan jaminan pmerdekaan dari api neraka merata pada semua anggota badannya, tanpa ada yang tersisa.
Orang laki laki yang bisa menyembelih, hewan kurbannya lebih utama di sembelih sendiri. Sedangkan orang perempuan atau laki laki yang tidak bisa menyembelih boleh mewakilkan pada orang lain yang bisa menyembelih dan mengetahui syarat syarat dan segala hal yang berkenaan dengan urusan kurban.
Bagi orang yang mewakilkan penyembelihan kurbannya di anjurkan hadir pada saat prosesi penyembelihan kurban.
Orang yang bukan imam atau pemerintah sunnat menyebelih kurban di rumahnya sendiri, agar di saksikan oleh keluarganya. Sedangkan untuk imam atau pemerintah sunat pergi ke tempat sholat Id Al-adha dan hewan kurbannya di sembelih sendiri, kemudian dagingnya di bagi bagikan kepada orang orang islam.
Dikala proses penyembelihan di sunnatkan mengingat nikmat yang telah di anugrahkan Allah dan mengingat terhadap binatang yang telah di tundukkan Allah kepadanya dan berkata:

إِنَّ صَلاَتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَبِذَالِكَ أُمِرْتُ وَاَناَ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ
Disamping itu, Orang yang meneyambelih/atau memutong kurban membaca do’a berikut:

اللهم هذا منك واليك فتقتل مني كما تقبلت من سيدنا محمد نبيك وإبراهيم خليلك

Komentar | 0 | Kembali

Form Komentar Batal